Resensi Film Hidden Figures (2016)

Uwuwu

"Flawless!" itu kata pertama yang gue pikirkan setelah beranjak dari kursi penonton ketika film yang baru saja gue tonton berakhir. Hidden Figures, sebuah masterpiece.

Berkat film ini, gue akhirnya tau kalau NASA pernah mempekerjakan tiga wanita kulit hitam. Sosok tiga wanita kulit hitam yang genius untuk membantu NASA (dan AS tentunya) dalam memenangkan perlombaan luar angkasa dengan Uni Soviet selama perang dingin kala itu.

Kredit foto: 20th Century Fox
Film ini mengangkat dan menyentil habis-habisan tema berat tentang wanita dan rasisme, mengajari penonton bahwa rasisme itu tidak dibenarkan sama sekali sekaligus mengingatkan kembali ingatan tentang pernah adanya pemisahan ras antara kulit putih dengan kulit hitam di AS. Dan kalau bicara pesan moral dalam film ini, lo bakal berasa ditampar karena dilakukan secara gamblang dan blak-blakan.

Hidden Figures adalah film yang mengambil latar tahun 1961, ketika perlombaan antariksa antara AS dengan Uni Soviet sedang panas-panasnya. Soviet, dalam film, diceritakan kalau sudah berhasil mengirim Sputnik dan Yuri Gagarin, sementara AS bahkan belum mampu menciptakan kapsul antariksa yang aman bagi astronot.

Karena memanas dan gak mau kalah dari Soviet, AS melalui NASA pun bertekad untuk mengalahkan para komunis dengan misi ke Bulan.

Film yang diadaptasi dari novel non-fiksi karya Margot Lee Shetterly dengan judul yang sama ini tampaknya memiliki suasana cerita yang berbeda ketika sutradara Theodore Melfi dan penulis naskahnya Allison Schroeder mengangkatnya ke layar lebar. Menurut gue, film ini punya suasana cerita yang berjalan baik, gak ada tokoh antagonis, yang sepertinya sengaja untuk membuat penonton merasakan pengalaman yang baik.

Tiga tokoh utama film ini, Katherine Johnson (Taraji P. Henson), Dorothy Vaughan (Spencer) dan Mary Jackson (Janelle Monae), sudah sangat lengket di pikiran gue berkat film ini.

Katherine Johnson adalah sosok yang cerdas (atau lebih cocok gue sebut genius) matematika diceritakan baru saja dipromosikan ke Space Task Group NASA yang dipimpin oleh Al Harrison (Kevin Costner). Tugas Katherine adalah sebagai "komputer" yang mengalkulasi perhitungan untuk peluncuran dan pendaratan wahana antariksa.

Jadi, di tahun 60-an, belum ada yang namanya komputer, bahkan kalkulator. Itulah tugas Katherine di NASA, dia harus menghitung apa saja yang dibutuhkan dalam misi dengan tangan dan otaknya. Yang paling menarik dan bikin gue terkesan adalah saat Katherine menuliskan seluruh penghitungannya dengan kapur di papan tulis besar. Goks.

Sementara itu, Dorothy Vaughan diceritakan bekerja di departemen yang berbeda dengan Katherine. Dorothy bekerja sebagai supervisor, tapi gak mendapatkan jabatan dan gaji selayaknya supervisor. Dan satu lagi, Mary Jackson, ia bertekad pengin jadi insinyur, tapi ia harus berjuang hingga ke pengadilan untuk bisa kuliah di kampus kulit putih.

Pada intinya, Hidden Figures adalah film yang mengusung tema berat tapi dikisahkan secara ringan, konfliknya klise dan konklusinya gampang banget ditebak. Yang apik tentu penuturannya yang pas serta dukungan akting meyakinkan dari para pemainnya.

Film ini berhasil memenuhi misinya sebagai sajian penghibur tapi tetap memiliki isi yang gak seringan tampilannya. Sepertinya ini adalah film non-fiksi pertama yang gue demen banget. Gak alay, gak muluk-muluk, lugas, dan direkomendasikan untuk lo tonton!

Gak perlu panjang-panjang yak resensinya, takunya malah spoiler, haha. Menurut gue, film ini 9/10.

Genius has no race. Strength has no gender. Courage has no limit. ―Hidden Figures (2016)

Jadi Penerjemah Twitter

Uwuwu

Gue akan selalu mengingat tanggal ini, 31 Desember 2016. Ini mungkin jadi hari paling bahagia dalam hidup gue (so far..). Pertama, tabungan gue akhirnya cukup untuk beli laptop baru, yang dengan bangga gue pakai untuk ngetik tulisan ini. Dan kedua, gue "diangkat" jadi penerjemah yang "diakui" oleh Twitter! Goks!

Gue gak bakal bahas tentang beli laptop baru, tapi kayaknya menarik untuk bahas tentang cerita gue yang jadi penerjemah Twitter.

Jadi, buat yang belum tau, Twitter memiliki sebuah komunitas penerjemah, atau Twitter Translations Center (TTC). Di TTC ini, banyak sukarelawan dari seluruh dunia yang tertarik untuk menerjemahkan Twitter ke dalam bahasanya masing-masing.

Seperti yang kita tau, Twitter adalah situs microbloging besutan Amerika Serikat. Saat pertama kali meluncur di dunia maya, Twitter jelas masih punya satu bahasa dong, bahasa Inggris. Nah, keberadaan TTC ini adalah sebagai pusat penerjemahan Twitter ke berbagai bahasa di dunia. Itulah kenapa sekarang Twitter tersedia di segala bahasa, baik itu Bahasa Indonesia, Bahasa Thailand, Bahasa Turki, Bahasa Jerman, dan masih banyak lagi.

Gue sendiri kenal TTC di tahun 2012. Jadi sejak empat tahun lalu, gue berusaha aktif untuk menerjemahkan Twitter ke dalam Bahasa Indonesia di TTC. Inget ya, aktivitas penerjemahan ini sifatnya sukarela, lu gak akan dibayar Twitter!

Yang menarik dari TTC ini adalah, setiap penerjemah yang aktif bakal dapet "hadiah" sebuah lencana (badge) "Penerjemah", bentuknya globe biru yang bakal muncul di sisi kanan nama profil. Mirip-mirip kayak lencana "Akun Terverifikasi". Sayangnya, gue gak pernah dapet lencana itu sejak gabung ke TTC tahun 2012.

Tapi kekecewaan itu berakhir sudah. Hari ini, 31 Desember 2016, gue akhirnya dapet lencana "Penerjemah" coy!

Skrinsyut dari akun Twitter pribadi
Asli, dengan diberikannya lencana ini, gue jadi semakin termotivasi dan semangat untuk terus aktif di TTC. Dan yang pasti, gue jadi semakin keren dong ya. :p

Eh, gimana cara dapetnya tuh za?

Pengen tau banget, atau pengen tau bulet? Sejak Agustus 2016 kemarin, TTC memperkenalkan yang namanya Poin Karma. Poin ini bakal lu dapetin ketika terjemahan lu diterima Twitter, atau ketika ada orang yang menerjemahkan sebuah kata, lalu lu vote terjemahan itu, dan pihak Twitter menerima terjemahannya, lu juga bakal dapet poin.

Nah, untuk dapetin lencana "Penerjemah", lu harus ngumpulin 300 Poin Karma. Gampang kan? Nantinya, setelah berhasil raih 300 Poin Karma, dalam 24 jam pihak Twitter bakal hubungin lu via email kalo lencana "Penerjemah" udah muncul di akun lu. Goks!

OIYA, dilarang keras nih untuk gabung di TTC kalo cuma untuk dapetin lencana "Penerjemah". Niscaya lu gak akan pernah dapet lencana itu. Jangan lupa juga ikutin kaidah-kaidah penerjemahan Twitter untuk Bahasa Indonesia.

Kuncinya adalah, a key!

Eh..

Kuncinya adalah, sabar. Bayangin aja, gue butuh 4 tahun untuk dapetin lencana ini. Dan ya, lencana ini bisa dicopot Twitter kalo kita gak aktif di TTC. Kalo mau lencananya jadi permanen, kumpulin deh tuh sampe 10.000 Poin Karma.

Akhir kata, terima kasih udah mau baca tulisan gue yang terkesan pamer ini (tapi emang bener sih, ini pamer! Hahahaha! Mamam lu! Kejar sono 300 Poin Karma! Hahahaha!!).

Wassalamualaikum bro.

Dan selamanya.

Selamat Hari Blogger Nasional 2016!

Uwuwu

Sejak tahun 2007, Menteri Komunikasi dan Informatika, Muhammad Nuh telah menggagas Hari Blogger Nasional. Hari spesial untuk para blogger (pengguna blog) itu setiap tahunnya jatuh pada tanggal 27 Oktober.

Jadi, di tulisan kali ini (yang semoga ada manfaatnya), gue mau cerita sedikit tentang pengalaman memakai atau jadi pengguna blogger. Buat yang tiba-tiba pengin kayang, silakan kayang dulu, baru baca ini. Makasih.

Nyomot dari: Rendy37.wordpress.com
Untuk yang sering berselancar di dunia maya, pasti gak akan asing dengan apa yang namanya blog. Blog beda loh dengan situs web atau website atau disingkat web aja. Menurut dosen salah satu mata kuliah di kampus gue, blog dan situs web punya banyak perbedaan. Biar gue tebak, lu mungkin salah satu orang yang belum tau perbedaan blog dengan situs web, kan? Ngaku aja, gak usah gengsi!

Biar gampang bedain mana blog dan mana web, gini aja:

Sebuah blog udah pasti memiliki daftar kronologis postingan. Jadi semua tulisan yang udah dibuat pemilik blognya bakal disusun dari yang terbaru sampai yang terlama. Setiap kali lu mampir ke sebuah blog, biasanya lu langsung menemui daftar beberapa konten yang pernah diposting oleh pemiliknya.

Nah, itu semua gak ada di dalam website. Kalau lu mampir ke sebuah website, lu gak akan nemu yang namanya daftar kronologis postingan tadi. Data yang ada dalam website biasanya statis. Contoh blog adalah blog yang sedang lu baca artikelnya ini, dan contoh website bisa kunjungi misalnya website milik bank, pemerintahan atau milik kampus lu.

Cukup tentang perbedaan blog dan situs web, sekarang gue mau cerita.

Gue sendiri udah kenal blog sejak gue mengenal komputer. Pertama kali gue kenal komputer (mainin komputer) adalah saat kelas 1 SMP. Itu kira-kira tahun 2007. Iya, gue masih muda kok.. masih single juga btw.

Awal main komputer, untuk anak SMP, adalah udah pasti game online. Gue masih inget banget gim pertama yang gue mainin lewat komputer itu Point Blank. Nah, pertama kalinya bikin blog adalah setahun setelahnya, tahun 2008. Blog pertama gue saat itu bukan blog ini. Ada deh pokoknya, isinya masih alay dan gue sekarang bingung: kenapa gue dulu bisa se-alay itu?! Kenapa?!

Okesip.

Setahun, dua tahun ngeblog, gue makin jago bikin tulisan gak berguna, dan sedikit ngerti tentang bahasa pemrograman yang dipakai untuk desain blog. Sedikit seluk beluk HTML cukup gue kuasai karena sering mampir ke blog orang lain yang bikin tutorial blogging. Ah, mereka seperti guru buat gue.

Sampai di tahun 2012, gue bikin blog baru. Saat itu, gue berencana bikin blog yang isinya hal-hal serius tapi menarik. Tapi, gue kembali bingung: blog apa yang isinya serius tapi menarik? Gue gak bisa tidur 3 hari 3 malem, makan gak berselera, mau boker males jongkok, sampai kucing terlantar di mana-mana (gak deng..).

Di pertengahan tahun 2012, gue mendapat sebuah firasat, "Udah za, bikin blog astronomi aja!"

Gak tau firasat itu dateng dari mana, terciptalah blog info-astronomy.blogspot.com. Gue sama sekali gak punya latar belakang pendidikan astronomi. Tapi berbekal suka menulis, doyan baca artikel astronomi,  dan tentunya passion. Blog yang dulunya gak punya pembaca sama sekali itu sekarang sudah punya domain sendiri yang lebih profesional: InfoAstronomy.org!

Pembaca blog InfoAstronomy.org sudah mencapai angka di atas 5.000 per hari. Dan yang lebih bikin semangat ngeblog di sana adalah, sekarang sudah gabung Google AdSense. Buat yang belum tau, AdSense adalah layanan iklan dari Google, dan blog gue jadi penayang iklannya. Dari situ, gue bisa dapet penghasilan per bulannya.

Sejak bergabung dengan AdSense, gue udah lupa kapan terakhir kali minta uang ke orangtua. Gue juga jadi bisa bayar uang kuliah sendiri, mau jajan apa aja tinggal makan, kuota abis tinggal beli, mau godain mbak-mbak kasir indomaret yang cantik tinggal pura-pura belanja, dan banyak hal-hal yang berbau keuangan lainnya yang sekarang udah terbebaskan. Kalau lu seorang blogger, gue bener-bener saranin untuk gabung dengan AdSense juga! Recommended!

Jadi, karena blogger, selain gue bisa menyebarkan informasi dengan cepat ke ribuan pembaca, gue juga bisa dapet penghasilan dari kegiatan itu. Seru, kan? Kalau kata Pak Walkot Bandung, ini namanya pekerjaan impian; sebuah hobi yang dibayar! :p

Tapi gue juga sedih, sekarang banyak blog yang sama sekali gak bermutu. Yaitu semacem blog yang kerjaannya cuma sebarin berita hoax, berita fitnah dan sejenisnya. Saran gue sih, manfaatin blogger sebaik-baiknya, seperti para youtuber memanfaatkan akun youtubenya (asal gak nyebarin hoax kampret Bumi datar aja).

Bagi gue, blog adalah tempat ternyaman dan paling asoy untuk menuangkan apa aja yang ada di dalem pikiran. Blog adalah sarana penghubung introvert dengan "lawan bicaranya". Blog adalah hidup. Blog adalah tempat belajar. Mari menulis!


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Pramoedya Ananta Toer