Efek Rumah Kaca, Band Inspiratif!

Dipublikasikan pada 1/03/2014 07:40:00 PM oleh Riza Miftah Muharram 0 Comments


Personil Efek Rumah Kaca. Nemu di: Google
Kali ini mau bikin tulisan yang lebih serius dari tulisan-tulisan sebelumnya. Hmm.. kenapa? Gue juga gak tau. Yang pengin gue share di sini adalah band Efek Rumah Kaca. Udah lama banget gue kenal band ini, seenggaknya 3 tahun yang lalu. Pas masih duduk di bangku SMP.

Saat itu lagu pertama yang gue denger adalah "Cinta Melulu". Ini lagu udah sukses bikin gue suka dengan band beranggotakan 3 pria keren ini (eitss.. gue gak homo ya bilang mereka keren!).

Nah, di bawah ini ada beberapa lagu Efek Rumah Kaca yang menurut gue asik, keren, bermakna dan.... ajaib kayaknya ya.



Jalang
Lagu pertama pada ablum ini, menceritakan sebuah keadaan nyata ketika masa pemerintahan orde baru. Semua yang menentang kinerja pemerintah dianggap musuh negara. Dapat terlihat jelas dari potongan liriknya : ‘siapa yang berani bernyayi, nanti akan di kebiri… siapa yang berani menari, nanti kan di eksekusi… karena mereka paling suci, lalu mereka bilang kami jalang…’

Jatuh cinta itu biasa saja
Jangan langsung memaknai lagu ini sebagai lagu yang merendahkan arti cinta. Efek rumah kaca membuat lagu yang memiliki arti berbeda daripada lagu cinta yang merajalela di pasar musik Indonesia sekarang ini, tidak ada makna cinta yang hiperbola. Menyinggung juga orang-orang yang menjalani dan memaknai cinta yang terlalu berlebihan. Terlihat dari potongan lirik lagunya: ‘kita berdua hanya berpegangan tangan, tak perlu berpelukan…’

Bukan lawan jenis
Satu tema menarik yang diangkat oleh efek rumah kaca dan menjadikannya sebuah lagu. Sama seperti judulnya cerita tidak jauh dari kisah dimana seorang ingin menolong tapi orang yang ditolong malah jatuh cinta padahal mereka sama jenis. Sang penolong hanya bisa bernyanyi dan memohon maaf, aku bukan lawan jenismu.

Belanja terus sampai mati
Bercerita bahkan mengkritik sebuah kebiasaan masyarakat indonesia (tak terkecuali mereka juga) yang sudah menjadi satu kebudayaan turun temurun bangsa ini yaitu budaya konsumerisme. ‘tapi tapi itu hanya kiasan, juga juga suatu pembenaran, atas bujukan setan, hasrat yang dijebak zaman, kita belanja terus sampai mati…’ tidak bisa dipungkiri, lirik lagu ini menggambarkan realitas yang ada pada tiap individu masyarakat Indonesia.

Insomnia
Lagu lain yang mengangkat tema sederhana, kebiasaan seseorang yang menjadi sebuah penyakit susah tidur, insomnia. dalam lagu ini menceritakan seseorang yang terus bertanya kepada dirinya sendiri, apa itu insomnia? apa penyebabnya? dari mana datangnya?

Debu-debu beterbangan
Lagu untuk merenung. Dalam lagu ini kita diajak merenungkan hidup yang tengah kita jalani dan juga tersirat sebuah makna religi. Selain itu pada bagian reff., menceritakan hari kiamat yang akan datang, tak bisa dielakan, dan sebagai manusia kita hanya bisa pasrah. ‘pada saatnya nanti, tak bisa bersembunyi… kita pun menyesali, kita merugi… pada siapa mohon perlindungan? Debu-debu beterbangan…’

Di udara
Sebuah lagu yang khusus dipersembahakan untuk seorang aktivis yang dibunuh di udara, siapa lagi kalau bukan Munir. Dalam lirik lagunya jiwa seorang munir bagai hidup dan mengisyaratkan bahwa akan lahir munir-munir lainnya yang akan membela ketidakadilan di negeri ini. ‘ku bisa tenggelam dilautan, aku bisa diracun di udara, aku bisa terbunuh ditrotoar jalan, tapi aku tak pernah mati, tak akan berhenti…’

Efek rumah kaca
Sebuah lagu yang memiliki nama yang sama dengan nama band dan judul albumnya. Lagu ini bertema kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, pemanasan global. Sedikit juga bercerita tentang keadaan bumi dimasa yang akan datang jika manusia terus merusak alam dan tidak mencoba memahami bumi ini sendiri.

Melancholia
Salah satu lagu yang ditulis cholil sang vokalis, pada waktu ayahnya meninggal. dalam kesendirian dia merasakan satu keadaan yang sangat menyedihkan. semua serba melankolis dan dia menggambarkannya menjadi sebuah keindahan yang jarang dirasakan oleh orang lain untuk dinikmati. ‘murung itu sungguh indah, melambatkan butir darah…’

Cinta melulu
Lagu paling sukses yang menjadi single pertama efek rumah kaca. mernceritakan tentang pasar musik di indonesia yang lagu-lagunya semua bertema cinta. Menyindir semua penikmat musik, band, dan para pencipta lagu zaman sekarang. ‘lagu cinta melulu, apa memang karna kuping melayu? suka yang sendu-sendu…’

Sebelah mata
Menceritakan keadaan adrian, sang basis yang mempunyai gangguan pengelihatan. Perlahan-lahan pengelihatannya kabur dan timbul bercak pada matanya, kemudian dia menulis lagu ini. Sama seperti melancholia, adrian menggambarkan kekurangannya menjadi sebuah keindahan yang tak dimiliki orang lain, menilai sebuah kekurangan atau kelemahan menjadi sebuah kelebihan. ‘sebelah mataku yang mampu melihat, bercak adalah sebuah warna-warna mempesona...’

Desember
Menceritakan sebuah banjir besar yang melanda Jakarta pada akhir tahun 1999. Lagu ini juga sebagai doa bagi mereka yang sabar menghadapi bencana tersebut dan doa bagi mereka yang telah berpulang kesisi –Nya akibat hal itu.

Tubuhmu membiru tragis
Tubuhmu membiru tragis, menjadi lagu pembuka dalam album keduanya ini. Menceritakan seorang pecandu narkoba/obat-obatan terlarang yang sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang nyata dan mana yang tidak nyata. Tubuhnya bahkan jiwanya melayang entah kemana dan akhirnya dia pun mengakhiri hidup dengan bunuh diri, melompat dari ketinggian dan jatuh terkulai.

Kau dan aku menuju ruang hampa
Dalam lagu ini, mereka mengambarkan sebuah keadaan dimana seseorang dipaksa untuk menuruti apa yang dikehendaki oleh atasannya atau orang yang lebih berkuasa (pemaksaan kehendak/brain wash). Menyentil juga situasi yang terjadi pada masa Orde baru. ‘kau belah dadaku, mengganti isinya… dihisap pikiranku, memori terhapus… terkunci mulutku, menjeritkan pahit…’

Mosi tidak percaya
Adalah sebuah suara kepenatan akan janji yang tidak pernah dipenuhi, sebuah teriakan rakyat yang tak mau lagi dikelabui oleh janji-janji palsu para penguasa negeri ini ‘Kamu ciderai janji, luka belum terobati, kami tak mau dibeli, kami tidak bisa dibeli, janjimu pelan-pelan akan menelanmu…’

Lagu kesepian
Lagu lain yang bertemakan cinta dikemas dalam wadah cantik yang berbeda dari lagu-lagu yang beredar luas belakangan ini. Bernuansa akustik dan masih menceritakan hal yang sederhana, sebuah janji yang tak lekas ditepati. ’Ku tak melihat kau membawa terang yang kau janjikan… Kau bawa bara berserak di halaman, hingga kekeringan… dimana terang yang kau janjikan? Aku kesepian…’ lirik yang begitu berbeda dengan lagu ce.i.en.te.a yang sekarang sedang menggaung di negeri ini. Jika di telaah dari sudut berbeda, lagu ini menceritakan hal lain. Dahulu kala ada sebuah kepercayaan bahwa piramida mesir dibangun manusia dengan bantuan para alien (makhluk asing). Ketika itu, alien berjanji akan kembali lagi ke bumi untuk hidup bersama manusia. Akan tetapi mereka pergi dan hingga sekarang manusia menunggu janji yang tak kunjung ditepati si alien.

Hujan jangan marah
Hujan jangan marah menceritakan keadaan musim kemarau yang berkepanjangan. Bercerita tentang sebuah doa seseorang agar hujan cepat turun dan tak marah lagi untuk menghapus musim kering yang berkepanjangan di negeri ini. ‘dengarkah? Jantungku menyerah… terbelah, ditanah yang merah… gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering… hujan hujan jangan marah…’

Kenakalan remaja di era informatika
Sesuai dengan judulnya, lagu ini bercerita tentang maraknya video seks remaja Indonesia. Menggambarkan keadaan nyata tentang rendahnya moral remaja yang dengan sesuka hati melakukan seks bebas dan mengabadikannya ke dalam bentuk video. ‘rekam, dan memamerkan badan dan yang lainnya… mungkin hanya untuk kenangan… ketika birahi yang juara, etika menguap entah kemana?’

Menjadi Indonesia
Mendengar lagu ini kita seperti merasa kesal dan sebal karena ‘hawa’ Indonesia penuh dengan kegelapan politik dan banyak kecurangan didalamnya. Sebuah ajakan juga dilontarkan agar masyarakat Indonesia bangkit mewujudkan mimpi-mimpi yang terpendam, memperbaiki citra negeri ini agar dikenal sebagai negara besar dimata dunia, tidak bergantung kepada negara lain dan menjadi Indonesia yang sesungguhnya kelak. ‘lekas, bangun dari tidur berkepanjangan… menyatakan mimpimu… cuci muka biar terlihat segar… merapihkan wajahmu… masih ada cara menjadi besar… memudakan tua mu… menjelma dan menjadi Indonesia…’

Kamar gelap
Jangan salah dalam memaknai lagu ini. Bukan berarti lagu ini menceritakan sebuah kamar ‘angker’ yang gelap gulita, melainkan sebuah kamar yang digunakan untuk menghasilkan (mencuci) sebuah foto. Lagu ini sangat unik, karena tema yang diangkat sesungguhnya tak banyak dipikirkan oleh kita. ‘yang kau jerat, adalah riwayat… tidak punah, jadi sejarah… padam semua lampu, semua lampu…’

Jangan bakar buku
Menceritakan kejadian maraknya pembakaran buku-buku sejarah yang menyimpang. Teriakan bagi semua orang akan pentingnya sebuah buku dalam hidup, sebagai pedoman dan menerangi jalan kebenaran yang telah disimpangkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Banyak asap disana
Eit, bukan tentang kebakaran hutan, rumah atau apalah itu. Lagu ini bertema urbanisasi. Menceritakan masyarakat desa yang hanya menggantungkan cita-citanya dikota besar. Mengharapkan penghasilan yang lebih karena disana banyak pabrik-pabrik berdiri dan akibatnya juga dikota jarang terdapat taman-taman hijau karena banyak berdiri gedung dan pabrik. ‘menanam tak bisa, menangis pun sama… gantung cita-cita di tepian kota…’

Laki-laki pemalu
Alunan musik waltz menggalun indah pada lagu ini. Dalam lagu ini, ada dua kemungkinan besar makna yang tersirat, yang pertama adalah cerita dimana hidup seorang laki-laki yang tidak mempunyai keberanian untuk menggungkapkan perasaannya kepada sang pujaan, yang hanya mampu bersembunyi atau hanya sebagai pemuja rahasia. Dan yang kedua, cerita dimada ada seorang laki-laki yang berpura-pura mempunyai sifat malu untuk menutupi ketidaksanggupannya dalam menggungkapkan perasaan hatinya kepada sang pujaan. ‘nanti malam, kan ia jerat rembulan… disimpan dalam sunyi, hingga esok hari… lelah berpura-pura, bersandiwara… esok pagi kan seperti hari ini… menyisakan duri, menyisakan perih, menyisakan sunyi…’

Balerina
Sebagai lagu penutup pada album ini, efek rumah kaca menawarkan satu lagu yang lebih ear catchy, dengan musiknya yang santai lagu ini berhasil membuai kita untuk kembali memutar dan mendengarkannya. Bercerita tentang sebuah keseimbangan yang harus ada dalam kehidupan. Mereka menggambarkan hidup layaknya seperti seorang balerina, bergerak indah, santai, dan mempesona. ‘menghimpun energi, mengambil posisi, menjejakan kaki, meniti temali… merendah meninggi… rasakan api, konsentrasi… biar, tubuhmu berkelana… lalui kegelisahan, mencari keseimbangan, mengisi ketiadaan, di kepala dan di dada…’

0 komentar:

Punya pendapat tentang tulisan di atas? Beri komentar Kamu di bawah ini.