[REVIEW] Novel Ayah karya Andrea Hirata

Dipublikasikan pada 7/20/2015 07:04:00 PM oleh Riza Miftah Muharram 0 Comments


Novel Ayah
Tulisan gue kali ini akan sedikit lebih serius dari tulisan lain di blog ini. Udah lama tulisan ini jadi draf, tapi baru sekarang gue terbitkan karena baru rampung reviewnya.

Setelah sekian lama, setelah tetralogi laskar pelangi diterbitkan, Andrea Hirata kembali meluncurkan novel bertajuk "Ayah". Masih dengan background masyarakat melayu Belitong dan sekitarnya, kebiasaan nongkrong di warung kopi, dan budaya melayu yang masih kental. Novel ini mengisahkan tentang seorang ayah bernama Sabari.

Sabari awalnya seorang pemuda yang anti cinta. Sampai suatu ketika, tepatnya saat ujian masuk SMA, Sabari bertemu Marlena yang saat itu mengambil jawaban soal Bahasa Indonesia-nya dengan paksa. Sabari diam, terpesona dengan bola mata Marlena yang disebutkan dalam novel itu seperti purnama kedua belas. Baru kali itu Sabari percaya yang namanya cinta pada wanita. Sabari tak sabar menunggu hasil pengumuman masuk SMA, tak sabar melihat Marlena. Namun, sedikit pun Marlena tidak menyukai Sabari, bahkan membencinya.

Sampai suatu ketika, ketika mereka sudah dewasa, lulus dari SMA. Setelah Sabari bekerja dan kemudian rasa rindunya pada Marlena membawanya kembali pulang ke kampungnya dengan rencana Sabari akan bekerja di pabrik Batako milik ayah Marlena, Markoni. Sabari berharap dengan bekerja di pabrik Markoni, setidaknya Ia bisa melihat Marlena, meskipun dalam cerita tersebut Marlena sering bersama dengan laki-laki yang berbeda-beda. Sabari merasa cukup bahagia dengan hanya melihat Marlena.

Sampai suatu ketika, suatu kondisi mengharuskan Marlena harus menikah. Markoni, ayah Marlena tidak tahu harus menikahkan Marlena dengan siapa, yang nantinya mau menerima Marlena dengan calon anaknya. Sabari dengan senang hati menawarkan diri. Dan akhirnya mereka menikah. Tamat, Ukun (teman dekat Sabari) dan semua orang kaget sekaligus menerka-nerka apa yang nantinya akan terjadi pada pernikahan mereka.

Benar saja, setelah menikah bahkan Sabari hanya 4 kali bertemu Marlena. Zorro lahir, anak Marlena. Sabari seperti mendapat kebahagiaan baru. Zorro seperti menggantikan Marlena dalam hidup Sabari. Sabari bahagia bukan kepalang. Menjaga, merawat, bercerita, dan membacakan puisi. Tapi kebahagiaan itu hilang setelah Marlena mengajukan cerai pada Sabari, Sabari takut Marlena mengambil Zorro, kebahagiaannya selama ini. Dan akhirnya Marlena mengambil Zorro dari Sabari. Mereka memutuskan pergi dari kampungnya. Berpindah-pindah tak menentu.

Sabari kehilangan kebahagiaan. Hidupnya seperti hilang. Teman-temannya iba melihat Sabari berjalan tak menentu di pasar-pasar layaknya orang gila. Melihat temannya tersebut, Ukun dan Tamat memutuskan untuk mencari Zorro dan Marlena demi Sabari. Berbekal uang seadanya, surat-surat Marlena untuk Zuraidah, dan SKKB dari kepolisian mereka berangkat menyusuri Sumatera.

Sampai suatu waktu Sabari mendapat kiriman surat dari Pak Pos yang berisikan bahwa Tamat dan Ukun akan pulang membawa Zorro dan Marlena pada suatu waktu (tertera di novel) dengan menumpang kapal muatan kayu. Sabari mendadak kembali waras dan mengumpulkan uang untuk membeli banyak hadiah untuk Zorro, juga ikut perlombaan lari demi Zorro. Hari itu pun tiba, Sabari tak sabar bertemu Zorro. Akhirnya mereka bertemu dan Zorro tinggal dengan Sabari.

Kayaknya review ini terlalu singkat dan jelas tidak menggambarkan seluruh cerita. Novel ini dikemas dengan budaya melayu yang kental tetapi dengan bahasa yang membuat gue ingin segera menghabiskan isi novel ini. Novel ini membuat kita tersadar cinta dan pengorbanan seorang ayah yang tulus untuk anaknya, juga seorang Sabari yang begitu sabar menghadapi kenyataan cintanya.

Di awal-awal cerita, Andrea Hirata menceritakan alur yang sulit ditebak serta kaitan-kaitan cerita di tiap babnya. Dan sampai di akhir novel, baru gue sadar bahwa setiap bab punya keterkaitan yang unik. Alur cerita yang aneh tapi sangat unik. Namun, sayangnya setelah membaca novel ini timbul beberapa pertanyaan dalam benak gue seperti "Gimana Ukun dan Tamat bisa menemukan Zorro dan Marlena?", dan juga tentang pernikahan Amirza dengan Marlena yang tidak diceritakan detail pada novel tersebut. Akan tetapi novel ini patut diberi nilai 90, karena seperti tidak mungkin untuk nilai sebuah sastra itu 100. (Haha! Seperti mengutip isi novel ini).

Selamat membaca.

0 komentar:

Punya pendapat tentang tulisan di atas? Beri komentar Kamu di bawah ini.