[REVIEW] Novel dan Film 'The Martian'

Dipublikasikan pada 10/03/2015 08:57:00 PM oleh Riza Miftah Muharram 0 Comments


Potongan adegan di film 'The Martian'. Nyomot dari: 20th Century Fox
Uwuwu

Adaptasi film dari novel kadang suka gagal, gagal memvisualisasikan jalan cerita yang asoy di novel ke layar lebar. Membaca adalah sebuah kegiatan pribadi, di mana kita bisa membangun dunia dalam pikiran kita di mana saja dengan sekadar kata-kata. Bikin film yang diangkat dari novel menurut gue hampir kayak pergi kencan buta dengan seseorang yang lu kenal secara intim karena sering surat-suratan atau sms-smsan tapi gak pernah benar-benar melihat orangnya, bahkan melihat fotonya.

Pertemuan pertama dari kencan buta ga selalu bagus, karena pas melihat dengan mata sendiri untuk pertama kali, orang yang lu ajak kencan buta belum tentu mirip kayak apa yang lu pikirin sebelum ketemuan.

Untungnya, film "The Martian" adalah kencan buta yang baik. Skenario yang dirancang Drew Goddard berhasil 'menerjemahkan' novel "The Martian" karya Andy Weir ke dalam sebuah script film yang dipenuhi unsur sains dengan sedikit humor, persis seperti novel yang juga udah gue baca sebelum nonton film ini. Dan tentu saja, sutradara Ridley Scott gak lepas dari kerennya film ini.

Doing science, still alive
"The Martian", adalah kisah yang bercerita tentang astronot bernama Mark Watney (diperankan oleh Matt Damon), yang terdampar di Mars ketika rekan-rekannya pada misi Ares berhasil kembali ke Bumi karena ada badai pasir besar di Mars saat itu. Watney ditinggal di Mars karena, dalam cerita, doi terluka parah pas dievakuasi oleh kru Ares lainnya. Para kru yang selamat menganggap Watney udah mati, jadi mereka pulang ke Bumi tanpa Watney, yang ternyata masih hidup.

Meskipun cuma 140 menitan, sebagian besar adegan utama yang ada di novel "The Martian" dengan ajaibnya hadir dan gampang gue sadari, gue merasa lega, gak ada satupun adegan penting di novel yang diubah dalam film, unsur sainsnya utuh!

Misalnya, pas Watney harus menambah pasokan makanan, doi menanam kentang di Mars. Selain itu, untuk memdapatkan air bersih, Watney membakar hidrogen hingga menjadi bahan bakar hidrazin. Ada juga rover-rover untuk perjalanan ke kawah-kawah di Mars, sekali lagi, persis seperti di novel.

Poster promosi film 'The Martian'. Maling dari: akun Twitter orang, makasih.
Menurut gue, film ini menjadi salah satu film yang menipu kita lewat cuplikan trailer-nya. Tapi sama sekali gak berarti film ini mengecewakan, cuma ekspektasi yang kita harapkan dari kisah survival seorang astronot ini gak sedramatis dan menegangkan seperti yang dibayangkan sehabis lu nonton trailer-nya di YouTube. Malahan film ini lebih penuh dengan sense humor di dalamnya. Serius tapi kampret.

Oh iya, "The Martian" ini beda jauuuuuuuuuuuuuh dengan dua film bertema luar angkasa di dua tahun terakhir ini, yaitu "Gravity" dan "Interstellar", penggarapan visual di film "The Martian" kayaknya bukan jadi suguhan yang paling utama. Gak ada kesan efek yang mewah dalam menggambarkan luar angkasa dan dataran planet merah di mana Watney berusaha bertahan hidup. Planet Mars hanya terlihat kayak gurun pasir gersang tanpa ujung. Efek animasi juga gak terlalu menonjol, kecuali lu film ini dalam format 3D, sih.

Sebaliknya, "The Martian" justru punya kekuatan pada dialog yang diucapkan antar pemeran. Bukan cuma di dialog serius, tapi juga banyak dialog lucu yang akan bikin penonton ngakak sepanjang film, gue salah satunya. Sangat gak terduga kalau abis nonton film "The Martian" malah dapet kesan fun daripada tegang, bukan tegang di bawah loh. #eh #apaansik?!

Beberapa hal kayak komunikasi menggunakan sandi dan banyak perhitungan-perhitungan angka diperlihatkan dalam film, tapi ini sedikit menjenuhkan dan terlalu lama karena penonton sudah lebih terhibur dengan adegan-adegan lucu atau rencana nyata untuk misi penyelamatan Mark Watney oleh para kru NASA.

Beberapa hal yang sepertinya merupakan kritik juga disampaikan melalui film "The Martian". Bagaimana sikap politik negara, di mana NASA terlalu enggan mengambil langkah beresiko karena berbagai alasan, terutama menghindari tekanan dari awak media. Tapi di sisi lain, NASA juga gak mau astronotnya tewas di Mars, sementara Watney telah menjadi manusia pertama yang bercocok tanam disana. Dan demi menyelamatkan Watney, mau tak mau NASA harus meruntuhkan egonya dengan meminta bantuan dari negara lain.

Tapi satu hal yang kurang menggigit dari film "The Martian", yaitu kesan penderitaan yang dialami oleh Watney. Seolah Watney sama sekali gak memiliki rasa putus asa saat terjebak sendirian di planet Mars. Kalau gue jadi Watney, mungkin gue lagi nangis minta pulang sambil nyetel lagu SM*SH yang judulnya "I Heart You", gak ada hubungannya sik, tapi gue nulis tulisan ini sambil dengerin lagu boyband musiman ini. Enak juga btw..

Perjuangan Watney pada akhirnya bakal menumbuhkan inspirasi bagi penonton tentang semangat hidup dengan pemikiran yang positif. Beda dengan film survival lain yang menyuguhkan nuansa mencekam juga dengan backsound dramatis. Di "The Martian", backsound yang dimainkan kadang malah menggugah tawa para penonton sembari para pemain melakukan aksi konyol.

Dan akhirnya, secara resmi, gue merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh siapapun. Ajak keluarga, mama, papa, adik, kakak, paman, bibi, nenek, kakek, kucing peliharaan, pacar, mantan, pacar orang, istri orang, suami orang, anak orang atau siapapun buat nonton. Worth it, lu gak akan nyesel.

Fin.

0 komentar:

Punya pendapat tentang tulisan di atas? Beri komentar Kamu di bawah ini.