Jadi Traveler Dadakan di Tahun 2016

Dipublikasikan pada 10/24/2016 01:04:00 PM oleh Riza Miftah Muharram 0 Comments


Uwuwu

*meregangkan otot tangan*

Ehm.. udah berapa lama ya gak update blog ini? Tapi sekarang, gue kembali! Akhirnya kalian bisa baca tulisan-tulisan gak berfaedah lagi di blog ini. Seneng banget, kan, pastinya? Jadi ... untuk merayakan comeback ini, gue mau sedikit cerita tentang pengalaman hidup (azegh). Pengalaman hidup ini semoga gak menginpirasi ya..

Tahun 2016 ternyata jadi tahun yang berbeda dalam hidup gue. Bukan, gue masih jomblo, gak ada yang berubah dalam status hubungan. Tapi, ternyata jomblo ada hikmahnya: gue bebas mau ke mana-mana. Karena kebebasan inilah gue merevolusi jadi traveler, traveler dadakan! Huahahaha. Pfftt. Okesip.

Sebenernya gue gak punya pengalaman sebagai traveler, keliling Jakarta aja suka nyasar. Bahkan setelah 20 tahun tinggal di Jakarta, gue masih gak tau Ciledug, Grogol, Slipi dan Tomang itu letaknya di mana, apa jangan-jangan itu sebenernya nama makanan khas suatu daerah terpencil yang belum terjamah keindahannya? Bodo amat. Yang pasti, gak pernah terlintas di benak gue di masa lalu, kalau nanti di masa depan gue bakal jadi traveler.

But wait, traveler itu cita-cita bukan, sik?

Kisah jadi traveler dadakan ini berawal dari keinginan nonton gerhana Matahari total yang udah terjadi tanggal 9 Maret 2016 kemarin. Sayangnya, Jakarta cuma kebagian gerhana Matahari parsial saat itu. Hal itu sempet bikin sedih, kecewa, dan rasa yang membara untuk meminang dia (eh?).

Tapi sebagai anak muda kreatif Indonesia, gue gak habis akal. Kebetulan punya teman yang sejalan, Gigih dan Mbak Donna, teman yang sekarang kayaknya sudah jadi keluarga kedua. Singkat cerita, didirikanlah sebuah situs web fenomenal, JejakLangit.com!

JejakLangit.com ini awalnya adalah situs web untuk perusahaan kecil sebagai penyelenggara tur astronomi pertama di Indonesia. Tur pertamanya adalah: Belitung!

Sampai tulisan ini gue buat, gue masih gak percaya pernah menginjakan kaki di pulau selain Jawa. Belitung, boi! Tur itu adalah tur ngamat gerhana Matahari total, yang gak disangka-sangka berhasil dapetin 100 orang peserta tur. Gokil, kan? Dari tur pertama ini, rejeki lainnya mengalir gitu aja. Gue bisa beli hp baru, teleskop baru. Gigih beli hp baru, laptop baru. Dan Mbak Donna, ehm, beli apa ya dia? Jam tangan baru kayaknya ._.v

Motret sebelum terbang naik Garuda, sayangnya gak ada Elang, padahal lebih asik naik Elang. Kredit: Dokumentasi Pribadi
Ke Belitung, otomatis naik pesawat, tadinya mau naik kereta, tapi pemerintah belum bikin rel bawah laut. Bodo amat dibilang norak, tapi ini pertama kalinya gue naik pesawat. Sebelum berangkat pas masih di Jakarta, bokap udah mewanti-wanti jangan iseng buka-buka pintu pesawat pas lagi terbang. Yakali gue segreget itu.

Karena gue bukan berasal dari keluarga berada, alias biasa-biasa aja, ini kali pertama naik pesawat terbang. Ternyata asik juga, apalagi pas udah di ribuan kaki dari permukaan Bumi. Karena dapet duduk di sebelah kiri dan dekat jendela, kepala gue selalu nengok ke arah luar jendela. Dan ini bikin pegel pas keluar pesawat. Kampret.

Mendarat di bandara H.A.S Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Belitung. 8 Maret 2016. Dokumentasi Pribadi.
Pendaratan belangsung mulus, cuma sekitar satu jam lebih sedikit dari CGK ke TJQ. Di bandara langsung disambut mamang-mamang yang bawa kertas bertuliskan "JejakLangit". Gue inget banget, mamang-mamangnya bau ketek. Gue rasa deodoran masih langka di Belitung. Tapi gak peduli, ini Belitung, boi! Belitung!

Setelah tiba di hotel, hotel Mustika namanya, wifinya lumayan ngebut (lah?), tur langsung berlanjut ke tempat-tempat wisata. Karena Belitung adalah pulau yang gak terlalu besar, wisata di sana adalah wisata pantai dan main ke pulau-pulau kecil di sekitarnya kayak Pulau Gosong, Pulau Pasir, Pulau Batu Berlayar, Pulau Burung. Dan yang paling berkesan adalah Pulau Lengkuas di sana ada mercusuar yang keren banget.

Mercusuar di Pulau Lengkuas. Dokumentasi Pribadi.
Hari pertama di Belitung sangat berkesan dan membekas di hati dan ingatan. Hari kedua adalah hari yang ditunggu-tunggu, 9 Maret 2016, ngamat gerhana Matahari total di sebuah pantai yang ... jauh banget dari hotel!

Karena gerhana terjadi di pagi hari, dari hotel harus udah berangkat setelah subuh. Dan karena terlalu pagi itulah, pas udah sampai di pantai tempat ngamat baru sadar kalau filter Matahari untuk teleskop lupa dibawa, masih ada di tas di dalam kamar hotel. Alhasil, telekop yang dibawa gak ada filternya. Padahal itu telekop dan filter udah disiapin jauh-jauh hari untuk ngamat gerhana di sana. Faaaaak.

Tapi alih-alih takut bahaya, justru nekad tetep ngamat gerhana lewat telekop. Untungnya, salah satu peserta tur bawa filter Matahari. Lupa namanya, tapi dia orang Jerman. Filter Matahari itulah yang akhirnya dihadiahkan sebagai oleh-oleh untuk gue. Lumayan, dapet filter Matahari asli Jerman. Wakakak. :p

Ngamat gerhana Matahari total di Pantai Burungmandi, Belitung. Dokumentasi Pribadi.
Pengamatan gak berlangsung mulus, sayangnya ada sedikit awan yang menghalangi. Tapi gue cukup terharu pas berhasil merasakan atmosfer gerhana. Langit yang tadinya terang benderang, seketika menjadi gelap. Nuansa menjadi sunyi. Hewan siang bingung apa harus pulang. Orang-orang terperangah. Tenggelam dalam ketakjuban. Gerhana Matahari Total, boi! Gerhana!!

Selain pertama kalinya naik pesawat, ini juga pertama kalinya ngamat gerhana Matahari total. Takjub setakjub-takjubnya takjub. Terharu seterharu-harunya terharu (apaan dah?).

Selesai ngamat gerhana, langsung caw jalan-jalan keliling Belitung lagi. Dan inilah tempat wisata yang paling gue inginkan untuk gue datangi. Penggemar novel Laskar Pelangi (dan tetraloginya) pasti bakal akrab dengan SD Muhammadiyah Gantong.

Dan yak, gue berkesempatan main ke sana, boi! Tapi sayangnya gak ada Ikal dan Arai. Maklum, boi, mereka sedang meraih mimpi besarnya di Paris. Ah, sebuah kisah yang menginpirasi.

Main ke SD Muhammadiyah Gantong, Belitung. Dokumentasi Pribadi.
Sebenernya masih banyak cerita-cerita seru yang bakal jadi cerita klasik di masa mendatang bagi anak cucu yang mau gue tuangkan di sini. Tapi kayaknya udah kepanjangan. Mungkin di lain kesempatan aja ya.

Tulisan ini masih berlanjut ke bagian 2, gue akan cerita tentang tur kedua: Gunung Prau! Tapi nanti, gak tau kapan, kalo inget aja pokoknya.

Dan ngomong-ngomong, makasih lho udah mau buang-buang waktunya untuk baca tulisan ini. Padahal ada kegiatan lain yang bisa dilakukan selain baca tulisan ini seperti kayang, jungkir balik, salto, jadi mamang gojek, godain kasir alfamidi yang cantik, nongkrong di 7eleven padahal gak beli apa-apa, nyobain minum minyak kelapa sawit yang katanya rasanya kayak air, atau bikin mi instan isi dua. Tapi ternyata kalian malah rela habisin waktu baca blog ini. :")

Akhir kata, salam uwuwu!

0 komentar:

Punya pendapat tentang tulisan di atas? Beri komentar Kamu di bawah ini.