Resensi Film Hidden Figures (2016)

Dipublikasikan pada 3/11/2017 04:45:00 PM oleh Riza Miftah Muharram 0 Comments


Uwuwu

"Flawless!" itu kata pertama yang gue pikirkan setelah beranjak dari kursi penonton ketika film yang baru saja gue tonton berakhir. Hidden Figures, sebuah masterpiece.

Berkat film ini, gue akhirnya tau kalau NASA pernah mempekerjakan tiga wanita kulit hitam. Sosok tiga wanita kulit hitam yang genius untuk membantu NASA (dan AS tentunya) dalam memenangkan perlombaan luar angkasa dengan Uni Soviet selama perang dingin kala itu.

Kredit foto: 20th Century Fox
Film ini mengangkat dan menyentil habis-habisan tema berat tentang wanita dan rasisme, mengajari penonton bahwa rasisme itu tidak dibenarkan sama sekali sekaligus mengingatkan kembali ingatan tentang pernah adanya pemisahan ras antara kulit putih dengan kulit hitam di AS. Dan kalau bicara pesan moral dalam film ini, lo bakal berasa ditampar karena dilakukan secara gamblang dan blak-blakan.

Hidden Figures adalah film yang mengambil latar tahun 1961, ketika perlombaan antariksa antara AS dengan Uni Soviet sedang panas-panasnya. Soviet, dalam film, diceritakan kalau sudah berhasil mengirim Sputnik dan Yuri Gagarin, sementara AS bahkan belum mampu menciptakan kapsul antariksa yang aman bagi astronot.

Karena memanas dan gak mau kalah dari Soviet, AS melalui NASA pun bertekad untuk mengalahkan para komunis dengan misi ke Bulan.

Film yang diadaptasi dari novel non-fiksi karya Margot Lee Shetterly dengan judul yang sama ini tampaknya memiliki suasana cerita yang berbeda ketika sutradara Theodore Melfi dan penulis naskahnya Allison Schroeder mengangkatnya ke layar lebar. Menurut gue, film ini punya suasana cerita yang berjalan baik, gak ada tokoh antagonis, yang sepertinya sengaja untuk membuat penonton merasakan pengalaman yang baik.

Tiga tokoh utama film ini, Katherine Johnson (Taraji P. Henson), Dorothy Vaughan (Spencer) dan Mary Jackson (Janelle Monae), sudah sangat lengket di pikiran gue berkat film ini.

Katherine Johnson adalah sosok yang cerdas (atau lebih cocok gue sebut genius) matematika diceritakan baru saja dipromosikan ke Space Task Group NASA yang dipimpin oleh Al Harrison (Kevin Costner). Tugas Katherine adalah sebagai "komputer" yang mengalkulasi perhitungan untuk peluncuran dan pendaratan wahana antariksa.

Jadi, di tahun 60-an, belum ada yang namanya komputer, bahkan kalkulator. Itulah tugas Katherine di NASA, dia harus menghitung apa saja yang dibutuhkan dalam misi dengan tangan dan otaknya. Yang paling menarik dan bikin gue terkesan adalah saat Katherine menuliskan seluruh penghitungannya dengan kapur di papan tulis besar. Goks.

Sementara itu, Dorothy Vaughan diceritakan bekerja di departemen yang berbeda dengan Katherine. Dorothy bekerja sebagai supervisor, tapi gak mendapatkan jabatan dan gaji selayaknya supervisor. Dan satu lagi, Mary Jackson, ia bertekad pengin jadi insinyur, tapi ia harus berjuang hingga ke pengadilan untuk bisa kuliah di kampus kulit putih.

Pada intinya, Hidden Figures adalah film yang mengusung tema berat tapi dikisahkan secara ringan, konfliknya klise dan konklusinya gampang banget ditebak. Yang apik tentu penuturannya yang pas serta dukungan akting meyakinkan dari para pemainnya.

Film ini berhasil memenuhi misinya sebagai sajian penghibur tapi tetap memiliki isi yang gak seringan tampilannya. Sepertinya ini adalah film non-fiksi pertama yang gue demen banget. Gak alay, gak muluk-muluk, lugas, dan direkomendasikan untuk lo tonton!

Gak perlu panjang-panjang yak resensinya, takunya malah spoiler, haha. Menurut gue, film ini 9/10.

Genius has no race. Strength has no gender. Courage has no limit. ―Hidden Figures (2016)

0 komentar:

Punya pendapat tentang tulisan di atas? Beri komentar Kamu di bawah ini.